Bolanasional.Co– Perburuan gelar top skorer Indonesia Junior Angkasa Pura 2 League (IJL AP2) kian menarik diikuti. Aura persaingannya pun disebut CEO IJL, Rezza Mahaputra Lubis mengingatkan dirinya seperti saat kompetisi Liga Indonesia era Dejan Glusevic dan Peri Sandria.

Ketat. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perburuan gelar sepatu emas atau pencetak gol terbanyak IJL AP2 U-9. Berbeda dengan kelompok umur U-11 yang lebih dikuasai penyerang Putra Sejati, Jehan Pahlevi, di level U-9 ada perbedaan yang tidak terlalu jauh.

“Persaingan top-skorer di IJL AP2 U-9 sangat ketat dibanding u-11 dimana PahLevi dari Putra Sejati sudah unggul jauh hampir 20 gol lebih,” ujar Rezza.

“Di U-9, semua pemain seperti Kelvin, Haru, Backer, Wahyu dan bahkan pemain lain masih sangat memungkinkan karena persaingan gol tipis sekali,” sambungnya lagi.

Posisi pertama top skorer IJL AP2 U-9 sendiri saat ini ditempati oleh gelandang ASTAM berdarah Jepang, Ahmad Haru. Seperti diketahui, dia empat kali mencatatkan namanya di papan skor pada pekan kedelapan lalu hingga membuatnya mengkoleksi tujuh gol sejauh ini.

Tak pelak, pujian khusus diberikan Rezza akan performa Haru selama IJL AP2 U-9 berlangsung. Meski disebut masih terkendala soal bahasa dengan rekan-rekan setimnya, pemain bernomor punggung 55 itu tak gagap menunjukkan kualitasnya di atas lapangan.

“Dalam sepak bola, permasalahan bahasa bukan kendala, sepak bola adalah bahasa universal, bahasa sepak bola terbukti juga mudah dipahami dari pemain-pemain usia dini kita,” ucapnya.

“Legiun asing di kancah IJL AP2 ini menurut saya sangat berkelas contohnya dalam diri Haru, kehadirannya juga dapat meningkatkan mutu SSB itu sendiri serta bobot kompetisi. Berbeda dengan pemain non-lokal yang kini meramaikan Liga 1,” ujar Rezza seraya tertawa.

 

Meski demikian, misi Haru untuk meraih gelar top skorer memang tak begitu mudah. Seperti diketahui dirinya saat ini dikepung nama-nama lokal seperti Kelvin Indonesia Rising Star dan Wahyu Ragunan SS dengan raihan enam gol juga rekannya dari ASTAM, Backer (5) dan Kevin (3).

“Ketika satu pemain asing dikepung pemain-pemain lokal dalam urusan perebutan top skorer tentu jadi sebuah bumbu menarik dalam kompetisi IJL AP2 kali ini,” ungkap Rezza.

 

“Hal tersebut mengingatkan saya saat Liga Indonesia era 90-an dimana ada nama pemain lokal kita, Peri Sandria dan bomber asal Montenegro, Dejan Glusevic main satu tim di Bandung Raya namum persaingan sehat tetap ada dalam urusan cetak gol. Dan di IJL AP2, ini terjadi di skuat ASTAM dalam diri Haru, Kevin dan Backer,” buka Rezza.

 

Namun,Rezza mengingatkan ada hal yang lebih penting daripada perebutan gelar top skorer yaitu soal kebutuhan tim. Kualitas seorang anak akan kian terbentuk ketika mau mengikuti instruksi pelatih tidak hanya demi keberhasilan pribadi namun juga rekan-rekan setimnya.

“Persaingan masih sengit di arena perebutan gelar top skorer, namun jangan sampai ada persaingan pribadi maka pemain tersebut menjadi egois sehingga mengorbankan SSB yang dibelanya. Tetap fokus pada kebutuhan tim dan instruksi pelatih, itu saja kuncinya,” tandas Rezza.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here