Bolanasional.Co– Mandi keringat adalah suasana yang tepat untuk menggambarkan perjuangan Salfas Soccer di pekan ke-10 Indonesia Junior Angkasa Pura 2 League (IJL AP2) U-9. Tak heran, ada sedikit saweran dari Salfas Family untuk Rakha Lubis dan kawan-kawan usai memastikan tempat ke babak final.

Harus bermain empat laga dalam satu hari dimana setiap duelnya bertajuk partai play-off delapan besar IJL AP2 U-9 benar-benar menguras fisik, tenaga dan emosi anak-anak Salfas Soccer. Beruntung, meski sempat terseok di laga pertama kontra ASTAM, mereka akhirnya mampu bangkit dengan melibas Ragunan SS dan CISS.

“Ya, alhamdullilah. Saya salut dengan perjuangan anak-anak meski waktu jeda istirahat mereka sangat minim saat harus bermain empat laga dalam satu hari. Jujur, tenaga kami belum stabil saat bertemu ASTAM di laga pertama,” ujar Khoirul, pelatih Salfas Soccer U-9.

“Setelah kalah melawan ASTAM di laga pertama, saya ingatkan mereka kalau ingin lolos ke semifinal maka syaratnya harus bisa mengalahkan Ragunan Soccer School dan CISS Soccer Skill. Alhamdullilah, motivasi itu ampuh dan mereka mampu memberikan permainan terbaiknya. Tenaga fisik emosi mereka terkuras hari ini dan bisa maksimal, saya sangat salut,” ujarnya lagi.

 

Bertemu Pro:Direct Academy, Khoirul menambahkan kelelahan mereka semakin menjadi-jadi. Namun, ia mengakui ada banyak faktor yang membuat Salfas Soccer unggul hingga akhir laga termasuk soal cederanya pemain andalan lawan, Lui.

“Memang harus diakui, laga semifinal melawan PDA sangat berat bagi kami karena faktor kelelahan ditambah kualitas PDA yang kokoh di belakang dan kuat di tengah. Kami beruntung karena pemain andalan mereka, Lui harus keluar di sisa 15 menit laga dan membuat serangan PDA tumpul. Lui sangat bagus, ia sering buat anak-anak Salfas kewalahan,” tegas Khoirul.

 

“Total kami bermain 3×30 menit sebelum laga melawan PDA dimana selama IJL AP2 U-9 berlangsung harus diakui mereka yang beri perlawanan paling hebat ke kami. Tensi meningkat dan pemain harus bertumbangan sebelum laga dimana Rakha Lubis, Akmal, Al ada sedikit masalah di bagian kaki terutama jari mereka. Tapi memang yang sudah saya bilang modal kami bermain 9 x 20 menit pada laga di Bandung dua pekan lalu jadi sebuah pelajaran berharga,” sambungnya lagi.

“Saweran” Usai Pastikan Tiket ke Final

 

Selepas laga kontra PDA sendiri ada hal unik yang dilakukan anak-anak asal Tangerang tersebut. Ya, di sudut Lapangan Angkasa Pura 2 mereka nampak berbaris rapi menerima “saweran” dari sang pelatih.

Namun saat dimintai konfirmasi, Khoirul dengan tegas menolak “saweran” itu sebagai sebuah bonus atau stimulus. Ia mengatakan hal tersebut hanya sebagai bentuk apresiasi dari barisan orangtua yang biasa disebut Salfas Family atas perjuangan luar biasa Al Cs yang bisa disebut sudah mandi keringat sebelum memastika diri lolos ke final.

“Oh iya, wali murid Salfas tadi dikumpulkan dan sepakat kalau memang anak-anak lolos ke final adalah sedikit bonus atau uang jajan. Tapi harus diingat ini bukan sebagai bentuk motivasi karena saya meyakini untuk level grassroot tidak boleh dirangsang dengan sebuah materi atau uang,” tegas Khoirul.

“Kalau disebut bonus mungkin terlalu berlebihan ya, mungkin hanya sebuah apresiasi saja karena mereka sudah sangat luar biasa hari ini. Dari pagi hingga menjelang sore main empat laga dalam sehari dengan lawan-lawan yang juga tak kalah bagus,” ujarnya.

“Ya semacam uang lelah karena anak-anak sudah mandi keringat dari laga kontra ASTAM, Ragunan SS, CISS hingga PDA. Betul-betul mandi keringat mereka hari ini dan itulah yang saya sebut salut dengan perjuangan mereka karena ini harus diakui tidak mudah,” sambungnya lagi.

 

Setidaknya keringat mereka bisa terbayar dimana bentuk apresiasi itu bisa mereka tabung atau sekadar beli minum jus selepas pertandingan

Di laga final nanti, Salfas seperti diketahui akan ditantang rivalnya, ASTAM. Tak heran duel bergengsi bertajuk Derby Banten tersebut disadari sepenuhnya oleh Khoirul. Soal evaluasi, sang pelatih pun menyebut dirinya sudah mengantongi catatan penting demi menampilkan permainan enjoy dan maksimal untuk anak asuhnya.

 

“Ya kami nantinya akan bertemu ASTAM di final. Kekalahan di babak play-off tadi tentunya jadi catatan untuk lebih baik pada partai puncak nanti. Laga saat melawan ASTAM kami terlihat lemah di sektor belakang terutama soal koordinasi kiper. Itu yang harus dikoordinasi. Selebihnya kami ingin mereka bermain enjoy, fun dan disiplin meski ada label partai puncak karena di level grassroot itu kunci pentingnya,” tandas Khoirul.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here