Bolanasional.Co– Reputasinya saat masih malang melintang di kancah persepak bolaan nasional membuat seorang Aris Indarto banyak bertemu dengan bek-bek asing ternama yang pernah mencicipi kerasnya atmosfer dunia kulit bundar Tanah Air.

Bagaimana penilaiannya soal performa pemain belakang Persija Jakarta asal Brasil yakni Willian Pacheco? Apa perbedaan karakter bermain rekan setimnya Leonardo Gutierrez dan Antonio Claudio? Lalu berapa raport yang diberikan pelatih asal Sragen, Jawa Tengah itu untuk barisan belakang Gelora Poetra U-9 selama IJL AP2 berlangsung? Berikut penuturannya

 

Sebagai mantan pemain dan kapten Persija Jakarta bagaimana seorang Aris Indarto melihat bek asing Macan Kemayoran yang kini tengah mendapat sorotan positif yakni Willian Pacheco?

Saya pikir dia membawa dampak positif bagi Persija. Terpenting adalah dia bisa jadi leader di belakang, dapat dipercaya oleh rekan-rekan setimnya kalau di belakang pasti aman.

Menurut saya seorang Pacheco harus memperlihatkan konsistensinya dalam bermain. Persija adalah tim besar, tidak elok rasanya menjadi kesebelasan yang angin-anginan. Jangan sampai Pacheco satu-dua laga memberi penampilan bagus tapi di pertandingan selanjutnya justru drop.

Memang itu konsekuensinya tampil di tim sebesar Persija, dimana pemain harus selalu tampil prima dan konsisten. Sekali lagi, Pacheco membawa pengaruh positif untuk Persija. Dia kokoh dan cukup agresif juga dalam urusan mencetak gol lewat bola mati.

 

Coach Aris semasa masih menjadi pemain pun pernah duet dengan bek-bek asing seperti diantaranya Antonio Claudio dan Matias Chavez (Persija) juga Leonardo Gutierrez (Persik Kediri). Sebagai pemain lokal apa yang diperlukan agar bisa benar-benar klop dengan mereka?

Yang paling penting adalah soal komunikasi. Dalam sesi latihan, harus ada banyak bicara, sama-sama saling mengerti apa yang dimau. Jadi sering sharring karena itu agak menumbuhkan rasa saling percaya, lebih klop.

Tapi kalau hanya sering bertemu di lapangan, justru lebih banyak diamnya karena masing-masing fokus dengan tugas dan posisinya. Justru pendekatan itu ada di luar lapangan, banyak bercanda istilahnya.

Ya itu, komunikasi harus terjalin dekat justru saat ada di luar lapangan. Mereka akan bicara ngalor ngidul dan memudahkan kita sebagai bek lokal merasa dekat dengan bek-bek asing tersebut.

 

Ada kisah unik dari coach Aris selama “pendekatan” dengan bek-bek asing tersebut?

Saya tipe pemain yang suka ngerjain mereka, sebaliknya mereka itu suka melakukan hal yang sama. Disitulah timbul kedekatan bukan bermaksud iseng yang nakal tapi lebih kepada supaya suasana lebih cair.

Mereka ibaratnya kan orang pendatang, butuh adaptasi untuk mengerti bahasa kita dan para pemain asing perlu belajar hal tersebut. Makanya kita harus selalu berusaha dekat dengan mereka karena kita juga tahu kalau di luar negeri sendiri pasti ingat kampung halaman. Pendekatan itu rasanya penting dan dapat berimbas positif di lapangan.

Selama berkiprah di dunia sepak bola nasional. Bisa sebut satu nama bek asing yang paling membuat coach Aris nyaman saat bermain?

Saya lebih ke Leonardo Gutierrez, rekan sewaktu di Persik Kediri. Dia sosok yang cool dan tak pernah mengeluh. Pandai memberi support untuk teman-teman setimnya terutama saat posisi drop. Leo selalu tampil 100 persen.

Antonio Claudio bagus tapi terkadang angin-anginan karena Toyo cenderung tipe bek powerfull. Sedangkan Leo campuran ke powerfull dan skill juga ketenangannya sebagai seorang bek sangat terus.

 

 

 

Apa ada penilaian dari coach Aris Indarto melihat performa barisan belakang Gelora Poetra selama IJL AP2 U-9 berlangsung?

Di Gelora Poetra u-9, saya pakai metode baru. Saya lihat dari semua tim, tidak ada yang berani pasang dua bek di belakang, rata-rata menurunkan susunan tiga bek sejajar.

Saya ingin Gelora Poetra U-9 punya dua pemain belakang dengan komunikasi bagus. Untuk level anak-anak seperti ini saya ingin lebih banyak bermain menyerang maka daripada itu ada lebih banyak pemain menjemput bola dari tengah ke depan.

Dalam proses bertahan, mereka hanya cukup komunikasi bagaimana cara bermain bertahan dengan benar, prinsip bertahan dengan benar dan saya rasa itu sudah cukup buat anak-anak.

 

 

Pelatih-pelatih kita termasuk di IJL AP2 U-9 ini suka menerapkan formasi tiga bek sejajar. Apa memang sektor belakang sepak bola Indonesia identik dengan pemain dengan sosok libero?

Pada dasarnya libero adalah soal kebutuhan. Sebenarnya sekarang meski ada tiga bek dengan format flat tapi ketika diserang sebenarnya masih pakai libero. Kalau ada serangan lawan, ada pemain yang mengcover dan itulah yang disebut libero. Tugas libero hanya dua yaitu cover dan potong bola.

 

Selama mengikuti IJL AP2 u-9, berapa rapor penilaian untuk barisan belakang Gelora Poetra U-9?

Saya pikir nilai mereka cukup di angka enam. Masih jauh dari harapan dan saya punya banyak PR untuk terus memupuk potensi mereka ke depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here