Bolanasional.Co– Mendapat undangan khusus dari Puma dalam acara launching produk sepatu futsal keluaran terbaru mereka bernama Puma One jadi kesempatan Indonesia Junior League bertukar pikiran dengan pelatih futsal ternama Tanah Air, Junika Rahmat Ramadhan alias Doni Zola.

Seperti apa pandangannya soal pembinaan sepak bola usia dini Indonesia? Sejauh mana harapan dia akan
kehadiran Indonesia Junior League lalu apa artinya menyandang status model brand ambassador produk kenamaan sekelas Puma? Berikut penuturan Donzol ke IJL.Com

Dari kacamata seorang pelatih futsal, bagaimana seorang Donzol menyikapi perkembangan pembinaan usia dini Indonesia? Bicara kompetisi, sistem apa yang seharusnya diperlukan anak-anak?
Saya melatih sudah sekitar 15 tahun dan banyak bertemu dengan pemain-pemain dari level grassroot yang artinya tumbuh dalam pembinaan usia dini berbagai macam daerah di Indonesia. Intinya pembinaan usia dini adalah sebuah pondasi yang sangat sangat penting.

Kompetisi usia dini di Indonesia sebenarnya sudah banyak tapi kalau bicara sebuah kualitas maka yang kita perlukan saat ini adalah format dalam bentuk liga untuk sebuah perkembangan level grassroot. Dari sistem liga untuk usia dini tersebut akan berdampak pada kemajuan sepak bola suatu negara. Sekali lagi, semuanya itu ibarat sebuah pondasi.

Sejauh mana peran PSSI sebagai federasi sejauh ini, apa kita memang harus terpaku pada PSSI? Terobosan-terobosan pihak swasta dalam pembinaan sepak bola usia dini apa itu sudah cukup membantu?

Kalau terlalu berharap pada federasi, sejujurnya akan berujung pada kekecewaan menurut saya. PSSI sendiri memang sedang berbenah, tapi maaf saya melihat pembenahan itu tidak menyentuh banyak untuk level pembinaan usia dini padahal kalau bisa berkaca, klub-klub SSB justru yang membawa nama Indonesia di dunia.

Ini memang yang seharusnya menjadi hal serius yang harus ditanggapi oleh PSSI. Menurut saya kuncinya adalah setiap orang yang rela terjun lewat pembinaan usia dini harus tetap konsisten karena apabila nanti jika PSSI sudah siap, kita pun jauh lebih siap karena semuanya pasti akan bekerja di bawah legitimasi PSSI.

Ya, konsisten dan komitmen kalau mungkin saat ini pihak swasta yang lebih banyak terlibat, saya rasa tidak ada masalah. Intinya jika PSSI sudah mau turun, kita sudah jauh lebih siap bersinergi.

 

 

Keluhan penyakit dalam pembinaan usia dini baik di sepak bola atau futsal Indonesia tidak jauh berbeda yaitu lisensi kepelatihan. Apa itu memang jadi hal paling darurat?

Lisensi ibarat sebuah SIM, banyak orang bisa melatih tetapi tidak punya SIM yang artinya mereka harus ikut aturan main. Di sepak bola dan futsal, ada sebuah peraturan yang sifatnya regional kalau pelaih harus pegang lisensi kepelatihan.

Tapi lebih banyak juga yang punya lisensi tetapi tidak bisa melatih dan ini menurut saya juga permasalahan serius. Kita tentu tidak mau disupiri sama orang yang punya SIM tapi nggak bisa nyetir.

Lisensi kepelatihan itu memang penting tapi di level-level tertentu. Semacam IJL, bisa kita terapkan soal lisensi kepelatihan tersebut, batas minimal D misalnya untuk grassroot. Ya, sekali lagi ini memang juga hal serius dalam pembenahan pembinaan usia dini Indonesia.

 

Sebagai pelatih yang tumbuh dan berkembang pada era teknologi modern, tentu banyak ilmu dari sepak bola dab futsal yang anda dapat. Transfer ilmu apa yang menurut Donzol bisa efektif membangkitkan gairah pembinaan usia dini di pelosok misalnya?

Saya termasuk pelatih yang memanfaatkan digital media sosial media entah itu akun instagram atau channel youtube. Selain itu saya juga senang ke kota-kota kecil di Indonesia, daerah pedalam NTT, NTB, Sumatera, Kalimantan hingga Ternate Maluku.

Mau saya, ketika datang ke sana tidak hanya memberikan coaching clinic semata tetapi juga “memaksa” pelatih-pelatih di sana untuk membentuk sebuah kompetisi atau SSB/akademi sepak bola atau futsal sehingga potensi anak-anak bisa tersalur dengan positif. Sharring dengan teman-teman disana juga bisa efektif transfer ilmu.

 

Dipercaya produk olahraga internasional sekelas Puma sebagai brand ambassador. Apa ada kesan khusus? 

Saya sudah tiga tahun menjadi brand ambassador PUMA yang artinya saya bukan cuma seorang pelatih yang dikontrak tetapi juga diberi mandat dan tanggung jawab memilih pemain-pemain futsal untuk membawa bendera PUMA.

Saat ini saya punya tiga pemain yaitu Citra Adisti, Sahidan Lubis dan Didu Suwardi dimana mereka punya pengaruh besar dalam dunia futsal Indonesia dan merupakan pemain nasional apalagi Citra Adisti yang akan berangkat membela futsal wanita di SEA Games 2017 Malaysia.

 

 

Lalu apa menurut anda Puma bisa ikut bersinergi turun tangan memajukan pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia?

Saya rasa brand sendiri adalah sebuah elemen penting bilamana kita bicara sebuah kompetisi bisa menarik brand-brand internasional ternama seperti Puma misalnya. Apabila kompetisi tersebut bisa dipercaya oleh sebuah brand, tentu bisa dikatakan mereka bisa mencuri perhatian sebuah produk dari luar negeri, akan terasa sekali impactnya. Trust dan value akan bermakna sekali.

Kembali kepercayaan itu menurut saya kuncinya adalah sebuah konsistensi. Ada sebuah kompetisi dengan rules yang jelas, punya sistem tahunan yang rutin, tim juara dapat akomodir. Selain itu juga ada pemberitaan di sosial media entah Youtube atau Instagram juga Web misalnya saya rasa tidak akan ragu brand besar seperti Puma jadi sponsor kompetisi usia dini.

Semoga IJL konsisten dan terus melahirkan pemain-pemai junior berbakat Indonesia karena wadah ini saya lihat serius dan sangat profesional

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here