Bolanasional.Co– Rencana Asprov PSSI DKI Jakarta menggelar kongres guna mencari posisi ketua umum mengundang perhatian dari tokoh sepak bola nasional, Bob Hippy. Pria yang merupakan eks penggawa Timnas Merah-Putih dan Persija itu berharap adanya sosok figur muda turun tangan membenahi atmosfer sepak bola ibu kota.

Asprov PSSI DKI Jakarta dalam waktu dekat akan menggelar hajatan besar. Rencananya pada 18 Oktober 2017, mereka akan menggelar kongres pemilihan ketua umum semenjak pemimpin terdahulu yakni Gusti Randa mengundurkan diri pasca terpilih sebagai anggota komite eksekutif PSSI Pusat.

Dalam waktu dua sampai tiga pekan terakhir, nama-nama bursa calon ketua umum Asprov PSSI DKI Jakarta memang terus berseliweran di media masa. Tercatat ada Budi Setiawan ( Mantan Deputi Sekjen PSSI ), Vivien Sungkono ( PLT Asprov DKI), Uden Kusuma ( Manajer Bhayangkara FC), Aldi Karmawa (Sekjen KNPI), Aji Ridwan Mas ( Pengcap Selatan), Daeng Rizal (Ketua Persitara ) dan paling anyar Rezza Mahaputra Lubis (CEO Indonesia Junior League).

Riuhnya suasana pemilihan ketua umum Asprov PSSI DKI Jakarta tersebut nyatanya mengundang perhatian dari mantan pesepak bola Indonesia era 60-an, Bob Hippy. Pria yang juga merupakan eks anggota Exco PSSI tersebut beranggapan harus ada figur baru yang berani mengambil sikap visioner untuk membenahi borok sepak bola ibu kota.

Ya, Bob meyakini atmosfer sepak bola Jakarta sebagai miniatur Indonesia harus jadi contoh untuk daerah-daerah lain. Hal itu yang menurutnya sama sekali tidak terlihat dalam era kepemimpinan terdahulu. Fasilitas dan infrastruktur memadai jadi sorotan utamanya.

Atmosfer tersebut disebut Bob Hippy tak lain adalah perhatian akan pembinaan usia muda. Menurutnya, itu jadi PR besar yang tengah dihadapi sepak bola Jakarta.

“Saya kira sudah waktunya DKI memilih pemimpin Asprov yang orientasinya pada pembinaan usia muda baik dari segi pemain maupun pelatih yang dinilai punya sisi potensial,” tegas Bob.

“Perhatikan pula dengan kehadiran kompetisi usia muda sampai junior league dengan level berjenjang disamping hal penting lainnya seperti kebutuhan infrastrukur dan fasilitas memadai. Intinya memang harus yang benar-benar paham soal pembinaan,” ucapnya.

Bob tak ragu mengatakan minimnya perhatian akan pembinaan usia muda cukup nyata berimbas pada klub sebesar Persija Jakarta. Tak heran klub dengan kostum utama merah-putih tersebut kini dijauhi prestasi mentereng jauh dari identitasnya sebagai ikon ibu kota bahkan Indonesia.

“Sepinya prestasi sepak bola Jakarta memang bisa dikatakan tidak lepas dari tidak adanya figur yang saya sebutkan di atas tadi,” ujar Bob.

“Sekarang jarang muncul pemain Persija dari klub-klub internal seperti era-era sebelumnya. Kita musti memproduksi pemain-pemain dari binaan kita dahulu baru ada tambahan dari luar bukan sebaliknya,” beber pria yang pernah merasakan sentuhan tangan dingin pelatih legendaris, Tony Pogacnick di Timnas Indonesia tersebut.

Saat ditanya soal nama-nama yang bermunculan, Bob Hippy tertarik dengan satu nama yakni Rezza Mahaputra Lubis. Menurutnya, CEO Indonesia Junior League tersebut punya modal memberikan sumbangsih besarnya untuk sepak bola Jakarta.

“Saya kira sudah waktunya sosok dan figur muda seperti Rezza Mahaputra Lubis untuk berani maju. Ia sudah membuktikan dirinya dalam pembinaan usia muda maju ke depan bukan hanya soal ikut-ikutan,” ucapnya.

“Track record Rezza Lubis, saat dia menjadi wakil direktur liga kompas saya melihat dia punya talenta, bukti lambat laun ia sukses dalam mengelar Indonesia Junior League. Tidak mudah melewati fase tersebut. Sudah waktunya orang yang ngerti maju karena ini bukan soal umur,” tandas Bob.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here