Bolanasional.Co– Kemarahan anggota Asprov PSSI DKI Jakarta mencapai puncaknya pada Kamis, 12 Oktober 2017. Mosi tidak percaya dengan tegas mereka keluarkan pada sosok lama seperti PLT Ketua Umum Asprov DKI, Vivien Sungkono. Figur-figur muda seperti Budi Setiawan, Aldi Karmawan sampai Rezza Mahaputra Lubis disebut-sebut terus dihadirkan untuk merombak total tata kelola sepak bola ibu kota.

Jelang kongres Asprov PSSI yang jatuh pada 18 Oktober 2017, bola panas terus bergulir. Pada Kamis (12/10), anggota Asprov bahkan rela mendatangi kantor PSSI Pusat guna mengeluarkan statment mosi tidak percaya atas kepemimpinan Plt Vivien Sungkono. Tercatat ada empat poin yang mereka beberkan.

“Kebobrokan Asprov PSSI DKI ini sudah jauh terlihat saat Gusti Randa didapuk menjadi nakhoda, tidak ada kegiatan. Paling parah saat 2015 tidak mengikuti ajang Piala Soeratin. Gusti Randa kemudian mengundurkan diri sebagai ketua Asprov dan mendapuk Vivien Sungkono sebagai Plt (Pelaksana tugas),” ujar Rinci Gustiawan, perwakilan dari klub Bina Mutiara.

“Selama kepengurusan mereka. Pengurus asprov sudah tidak amanah, tidak kredibel, dan tidak profisonal dalam menjalankan organisasi. Terutama menyangkut Kongres yang sejak awal pada tanggal 7 Oktober 2017 lalu diundur ke tanggal 18 okt 2017 dan kembali mengalami pengunduran jadwal yang sudah pasti tidak akan jelas pastinya,” tegasnya lagi.

Rasa kecewa yang diuarakan Rinci Gustiawan juga dilengkapi pernyaatan dua koleganya yaitu Erwin Mahyudin dan Widi Pratama. Mereka senada dengan kebobrokan tata kelola sepak bola Jakarta dalam kurun waktu 16 tahun terakhir.

“Semua dilakukan semaunya tanpa mekanisme organisasi. Benny Erwin yang sebelumnya exco berubah menjadi sekjen, bertukar posisi dengan Muklas Rowie yang sebelumnya sekjen. Kemudian, Daeng Rizal Hafidz naik pangkat, dari anggota exco menjadi wakil ketua. Inilah kebobrokan organisasi Asprov DKI, yang seenak-enaknya melanggar statutanya sendiri. Bahkan banyak anggota yang tidak memiliki statuta karena tidak diberikan oleh Asprov,” ucap Erwin dari Pemuda Jaya.

“Maka itu, kami serahkan mosi tidak percaya ini kepada PSSI Pusat sebagai induk organisasi. Sungguh memalukan Asprov ibu kota tidak punya sekretariat. Ini adalah Kepengurusan Asprov paling parah dalam 16 tahun terakhir,” beber Widi Pratama.

Dari kabar terakhir, mayoritas anggota Asprov PSSI DKI Jakarta memang menginginkan sosok revolusioner dan figur muda yang bisa memimpin sepak bola Jakarta khususnya dalam hal pembinaan dari level grassroot dan youth. Tercatat ada nama-nama yang terus digulirkan seperti Budi Setiawan ( Mantan Deputi Sekjen PSSI), Aldi Karmawan (Sekjen KNPI) dan teranyar Rezza Mahaputra Lubis (CEO Indonesia Junior League).

 

Rezza Mahaputra Lubis
Aldi Karmawan
Budi Setiawan 

 

 

Berikut poin-poin mosi tidak percaya dari Askot dan klub anggota Asprov PSSI DKI Jakarta 2017:

 

1. Kami Asosiasi Kota dan klub anggota meminta kepada Asprov PSSI DKI Jakarta segera menyelenggarakan kongres selambat-lambatnya tanggal 18 oktober 2017.

 

2. Kami Asosiasi Kota dan klub anggota meminta agar PSSI Pusat mengambil alih pelaksanaan Kongres Asprov PSSI DKI Jakarta. Dikarenakan pengurus Asprov sudah tidak kredibel dan tidak profesional dalam menjalankan organisasi. Terutama pelaksanaan kongres yang sudah dijadwalkan pada 7 oktober 2017, mundur 18 oktober 2017 dan mundur lagi.

 

3. Kami Asosiasi Kota dan klub anggota menolak kehadiran Gusti Randa dalam pelaksanaan Kongres Asprov PSSI DKI Jakarta karena sudah tidak memiliki legitimasi di mata anggota dengan mengundurkan diri sepihak sebagai ketua Asprov PSSI DKI Jakarta.

 

4. Kami Asosiasi Kota dan klub anggota dengan ini memberikan mosi tidak percaya terhadap Komite Eksekutif PSSI DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Plt. Vivien Sungkono.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here