Bolanasional.Co- Piala Soeratin bisa disebut sebagai pintu masuk para pesepak bola muda Tanah Air sebelum menginjakkan kaki di pentas nasional. Namun kenapa gelaran turnamen yang digelar sejak 1966 tersebut seperti kehilangan marwahnya dalam beberapa tahun terakhir?

Nama besar Ir Soeratin Soesrosogondo memang sudah melegenda di kalangan pecinta sepak bola Indonesia. Perjuangannya menyatukan Nusantara saat itu dengan alat perjuangan bernama sepak bola selalu jadi inspirasi para pelaku dunia si kulit bundar Tanah Air hingga saat ini.

Sejak tahun 1966, nama Soeratin memang sudah diabadikan menjadi nama gelaran turnamen sepak bola usia muda di Indonesia dimana saat itu jawaranya adalah Persema Malang. Nama-nama beken seperti Rony Paslah, Ricky Yakobi, Charis Yulianto, Aji Santoso, Imran Nahumarury, Ahmad Bustomi, Gunawan Dwi Cahyo sampai yang paling anyar, Egy Maulana Vikri.

 

Semangat itu pula yang dibawa pada gelaran Piala Soeratin 2017. Mengusung tema Energi Masa Depan, kota Yogyakarta dan Magelang ditunjuk sebagai tuan rumah putaran final kelompok usia U-15 (30 tim) dan U-17 (32 tim) yang akan berlangsung dari 14-28 Oktober 2017.

 

Harapan dari PSSI memang jelas dengan kehadiran Piala Soeratin agar bibit-bibit berbakat sepak bola Indonesia kembali muncul di permukaan mendorong regenerasi yang sudah dan harus ada. Meski demikian, gelaran tahun ini bukan tanpa cacat saat juara bertahan Persab Brebes U-17 harus absen karena berbagai alasan klasik.

“Mengikuti ajang Liga 3 zona Jateng lebih menantang karena jika menjadi juara bisa promosi atau naik kasta ke Liga 2. Jadi, Persab Brebes lebih memilih konsentrasi di Liga 3 dibandingkan dengan mempertahankan gelar juara Piala Soeratin U17 tahun 2017 ini,” jelas Ketua Umum Persab, Heri Fitriansyah.

“Keputusan absennya Persab di Piala Soeratin 2017 terpaksa diambil manejemen karena sejumlah pertimbangan juga. Dengan habisnya masa kepengurusan dan baru melakukan pemilihan, tidak bisa melakukan persiapan untuk menghadapi Piala Soeratin tahun ini,” jelasnya lagi.

Piala Suratin di tengah nama besar yang “terlanjur” dimiliki memang kadung diselimuti berbagai persoalan pelik. Contohnya pada 2014 saat gelaran regional DKI Jakarta dimana turnamen yang seharusnya dibina secara profesional tersebut justru disulap menjadi ajang tarkam.

“Piala Suratin ini merupakan even bergengsi tingkat nasional, harusnya pertandingan di gelar secara profesional. Tapi saat ini pertandingan layaknya pertandingan tarkam,” ujar Manajer tim Jakarta Timur FC, Bambang Setiawan pada 2014 lalu.

“Turnamen harusnya digelar di stadion bukan di gelar di lapangan terbuka seperti lapangan Aldiron yang tidak layak. Masa, tiang gawangnya saja tidak menggunakan jaring, ini benar-benar sangat memperihatinkan,” sesalnya lagi.

 

Hal ini pula yang menjadi perhatian CEO Indonesia Junior League, Rezza Mahaputra Lubis. Sebagai pelaku pembinaan sepak bola usia dini di Tanah Air, ia beranggapan sudah saatnya Piala Suratin mendapatkan kembali marwahnya.

“Saya melihat gaung dan kompetisi Piala Suratin memang hanya menjadi sekadar kompetisi dan turnamen pelipur lara karena dikemas ala kadarnya, maka gelaran ini tak lagi menjadi prioritas tim-tim provinsi atau kabupaten. Kompetisi ini sebenernya seperti sepi peminat bukan tidak ada tim hanya saja rata-rata terkendala soal pembiayaan padahal ini sudah menjadi kalender PSSI untuk setiap tahunnya,” terang Rezza.

 

“Padahal ini momen terbaik tim-tim daerah agar lebih bersemangat untuk menciptakan pemain handal yang bisa direkrut ke klub profesional bahkan menembus Tim Nasional Indonesia nantinya,” tambahnya lagi.

 

Karena itu Rezza beranggapan titik awal agar Piala Suratin dapat kembali pada marwah kebesaran namanya tergantung dari keseriusan tingkat asosiasi provinsi pada setiap daerah. Menurutnya, mereka harus lebih berperan aktif berkolaborasi dengan kehadiran pemerintah dalam hal ini pemda.

“Seharusnya Setiap Asprov PSSI di setiap daerah bisa berkolaborasi dengan pimpinan daerah seperti Bupati dan Wali Kota untuk bisa memberikan dukungan kepada tim Liga 3, U-15 dan U-17 serta sepak bola wanita,” ucap Rezza.

 

“Karena kompetisi-kompetisi ini masih dalam kategori sepakbola amatir, sehingga konsekuensi pendanaannya masih dibiayai oleh pemda beda dengan tim-tim profesional di liga 1 dan liga 2,” jelasnya lagi.

 

Beruntung, nama Egy Maulana Vikri seakan jadi penyegar dalam beberapa bulan belakangan ini. Hal tersebut memang tak lepas dari performa menawannya saat membawa Persab Brebes menjadi juara tahun lalu berlanjut saat dirinya diberi kesempatan mengenakan seragam Timnas Indonesia U-19.

“Masterplan yang tak jelas dari pusat membuat Piala Suratin ini ibarat kompetisi pelipur lara, padahal gelaran ini menjadi awal pintu masuk bagi pemain usia muda ke era profesional, seharusnya klub-klub liga 1 banyak yang pada akhirnya merekrut pemain-pemain terbaik dari kompetisi ini, untuk dimasukan pada skenario di tim U-21 mereka. Hanya saja hal itu tidak berjalan lancar,” tegas Rezza.

 

“Bisa dilihat saat Persija tim U-19 kemarin sedang melakukan pembentukan tim, mereka tetap harus mencari pemain sampai ke Palu dan Medan lewat ajang seleksi singkat. Padahal kalau mereka mau dengan mudah mereka bisa rekrut dari ajang Piala Suratin ini dan kembali kita diingatkan akan pentingnya database pemain pada setiap kompetisi,” tandas pria yang namanya kerap disebut dalam bakal calon Ketua Umum Asprov PSSI DKI Jakarta tersebut.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here