Bolanasional.Co- Kericuhan fisik antar pemain yang terjadi di kompetisi Liga 1 U-19 sangat disesali oleh banyak pihak. Salah satunya seperti yang dirasakan oleh CEO Indonesia Junior League, Rezza Mahaputra Lubis dan mantan asisten pelatih Persija Jakarta U-19, Washiyatul Akmal.

Kejadian memalukan terjadi di babak delapan besar kompetisi Liga 1 U-19 antara Bhayangkara FC versus Bali United. Gelaran yang sifatnya masih bersifat pembinaan tersebut nyatanya jadi arena “adu otot” antar pemain muda di atas lapangan. Kurang tegasnya kepemimpin wasit disebut-sebut juga jadi pemicu.

Kejadian bermula dari sikap tak terpuji pemain Bhayangkara FC, Ichtio Ni Matul Akbar. Kalah duel berebut bola dengan salah satu pemain Bali United, Ichtio justru dengan emosional menghajar tulang kering lawannya tersebut dengan melepaskan tendangan keras lewat kaki kanannya.

Tak pelak, aksi Ichtio tersebut membuat pemain Bali United tersulut melakukan protes ke wasit hingga terjadi kericuhan di pinggir lapangan. Tanpa ada komando, kapten Bhayangkara FC U-19 yakni Reksa Maulana justru melakukan tindakan ceroboh dengan berlari dan mendorong kerumunan. Dari kamera video rekaman pertandingan, ia juga tertangkap basah memukul leher salah satu lawannya, Ricky Nova Asterix. Tak ketinggalan kiper Bhayangkara FC, juga ikut-ikutan “pamer otot”.

Pukulan telak yang diterima Ricky memang hampir saja berakibat fatal. Ia sampai tidak sadarkan diri dan diduga kuat mengalami cedera cukup serius di bagian leher. Beruntung, petugas medis bergerak cepat sehingga kondisi Ricky bisa cepat diatasi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Kejadian memalukan tersebut nyatanya membuat miris pemerhati sekaligus pelaku pembinaan sepak bola usia muda Indonesia, Rezza Lubis. Pria yang kini menjabat sebagai CEO Indonesia Junior League, sebuah kompetisi level grasroot tersebut nampak miris dan prihatin dengan aksi brutal yang terpampang nyata di Stadion Kapten I Wayan Dipta tersebut.

“Tentu kabar tersebut membuat saya sangat prihatin karena kompetisi Liga 1 U-19 sifatnya masih pembinaan,” ucap Rezza.

“Hukumannya harus tegas. Siapa saja yang memukul dan membuat kerusuhan seharusnya dihukum seumur hidup dan tak boleh terlibat di dunia sepak bola. Sanksinya tidah boleh mengikuti kegiatan di sepak bola selama satu tahun yang pas menurut saya. Jadi pembelajaran,” tegas Rezza.

Selain itu, Rezza meyakini ada banyak faktor penyebab pemain-pemain muda sepak bola Indonesia masih sangat labil dalam hal penguasaan emosi. Disini, Rezza juga menyoroti peran besar pelatih di dalamnya.

“Faktor- fakor kurangnya edukasi soal semangat fair play di usia muda sepertinya sangat rendah. Saya melihat usia di 19 tahun ke bawah cenderung labil dan mudah di provokasi, ini watak telat dewasanya anak-anak kebanyakan di Indonesia,” kata Rezza.

“Seharusnya setiap tim didampingi semacam ahli psikologis pemain, faktor keributan ini saya liat juga banyak dipengaruhi mentalitas para pelatih yang mengharuskan para pemainnya menang, tanpa melihat situasi yang ada sehingga para pemain di lapangan menjadi beban dan mudah terlecut emosinya,” sambungnya lagi.

 

Memang selain faktor pelatih, kehadiran kompetisi berkualitas yang diikuti pemain muda dari sejak level usia dini tak juga bisa dipinggirkan. Disitu Rezza mengatakan tak hanya skill dan teknik yang diasah namun juga paling penting adalah mental bertanding.

“Pola ini sebenrnya bisa lebih matang jikalau para pemain mengikuti kompetisi pembinaan usia dini yang baik, jadi sedini mungkin mereka sudah belajar meredam emosinya. Dengan kompetisi yang baik, kedewasaan anak-anak akan terus terjaga sampai usia remaja,” tandasnya.

 

Komentar yang keluar dari Rezza juga dilengkapi pernyataan pendiri CISS Soccer Skill yang juga pernah menjabat sebagai asisten pelatih Persija Jakarta U-19, Washiyatul Akmal. Ia mengaku, banyak PR besar untuk membenahi sepak bola Indonesia khususnya dari level usia muda.

“Kejadian ini membuat saya miris. Sudah saatnya harus ada sanksi tegas yang diberikan PSSI atau operator liga, harus diperhatikan mulai dari sekarang entah berupa larangan tanding selama satu bulan pada si pemain misalnya. Meski usia masih muda, tetap harus ada sanksi tegas ini pembelajaran bagi mereka ke arah senior nanti,” tegas Akmal.

“Memang di usia 19 ini, emosi dan motivasi pemain sedang tinggi-tingginya dan saya juga sempat rasakan saat menangani anak-anak Persija kemarin, mereka ingin membuktikan diri dan meraih kemenangan jadi salah satu caranya. Tapi perlu mereka ingat sebagai pesepak bola, harus juga punya attitude positif dan tanamkan itu sejak usia muda,” tegas eks pemain Persija dan PSM itu.

Akmal pun yakin pasca kejadian tersebut, jajaran pelatih dari kedua belah tim akan mencari cara agar insiden memalukan tak berlanjut di laga-laga ke depan. Psikologis pendekatan ke masing-masing individu jadi salah satu kuncinya.

“Saya yakin Charis Yulianto dan staf pelatih lainnya di Bhayangkara FC akan merespon dengan cara positif terkait kejadian di Bali kemarin. Apalagi saya cukup kenal dengan mas Charis yang juga notabene adalah mantan pemain juga dan sangat disegani, pasti ia akan bergerak agar anak asuhnya tidak mengulangi hal sama. Pendekatan psikologis jadi cara paling ampuh,” tegasnya.

 

Sebelumnya di kawasan sepak bola Asia tepatnya pada kancah kompetisi Liga Super China, kericuhan antarpemain juga sempat mewarnai laga antara Guonghzou Evergrande FC versus Shanghai SIPG. Perkelahian massal dipicu oleh aksi gelandang kelas dunia asal Brasil, Oscar sebuah tendangan ke arah pemain tuan rumah sebanyak 2 kali hingga menyulut emosi lawannya.

Tak pelak, eks penggawa Chelsea tersebut jadi bulan-bulanan pemain Shanghai SIPG. Keadaan menjadi kian kacau saat ofisial pertandingan dari kedua belah tim juga para pemain di bangku cadangan ikut turut campur hingga perkelahian massal tak bisa dihindarkan.

Bahkan pada awal tahun, Qin Sheng dari Shanghai Shenhua dihukum larangan enam bulan karena menginjak-injak Axel Witsel (Tianjin Quanjian)

 

“Kalau melihat Liga Cina para pemain lokalnya yang minim edukasi dari pembinaan hinga sering berlaku brutal, banyak pemain asing cedera juga oleh tekel-tekel brutal pemain lokal. Beda jauh dengan liga jepang yang sistem pembinaan sudah baik dan maju bukan lagi berkembang,” tutur Rezza.

Meski demikian, di balik kejadian memalukan di China tersebut, Indonesia juga harus belajar menerapkan hukum yang tegas untuk para pemain perusak nilai dan asas fair-play. Seperti diketahui, Oscar yang dianggap sebagai pemicu keributan sudah dihukum larangan tampil selama delapan laga sementara Qin Sheng dilarang tampil dalam kurun waktu enam bulan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here