Bolanasional.Co– Klenik sebagai unsur hiburan dalam sepak bola jadi bumbu yang tetap menarik untuk disajikan. Berlaga di Malaysia, IJL All Stars pun merasakannya dari nasi lemak, jersey warna hijau sampai rambut yang sengaja dibuat pirang.

Dalam era sepak bola modern, hal-hal berbau klenik tetap saja tak bisa dipinggirkan. Tak akan ada habisnya jika untaian cerita dari masa ke masa yang tak sampai dinalar manusia tersebut dihadirkan. Ibaratnya seperti dongeng pengantar tidur untuk anak-cucu.

Percaya atau tidak, klenik tersebut memang sudah akrab dengan dunia sepak bola di belahan dunia manapun. Ibaratnya tanpa cerita tersebut, jalannya pertandingan di luar lapangan akan terasa hambar bagai sayur tanpa garam.

Saat berlaga di ajang Royal Selangor Club Dato Chu Ah Nge Junior Soccer International Tournament, IJL All Pun merasakan klenik yang dimaksud. Nyatanya hal tersebut jadi sinyal kebangkitan Nuno Leoporto dan kawan-kawan.

 

 

1. Nasi Lemak

Saat laga pertama, demam panggung memang jadi masalah utama anak-anak IJL All Stars. Proses adaptasi saat pertama kali berada di Negeri Jiran jadi sebab mereka tampil kurang maksimal saat melawan Anza Aussie dan JSSL Elite pada Sabtu (2/12).

Bedanya terjadi saat turnamen memasuki hari kedua, Minggu (3/12). Pasukan dari Tanah Air itu sudah dapat menemukan ritme terbaiknya, tak hanya saat di dalam tetapi juga di luar lapangan. Dalam hal ini, santapan kuliner bisa jadi penyebabnya.

Di hari kedua, nasi lemak khas Malaysia memang jadi menu pembuka untuk Daffa Prananda dan kawan-kawan. Menu hidangan khas Negeri Jiran yang agak mirip dengan nasi uduk Betawi tersebut jadi simbol awal kebangkitan IJL All Stars.

Hasilnya, energi berlipat ada dalam diri Bima Aidil Cs. Khasiat nasi lemak pun cukup ampuh saat di laga perdana pada hari kedua mereka mampu mengawali hari dengan kemenangan atas Young Boys dengan skor 1-0 disusul pesta gol saat bertemu Glenmarie United (4-0).

 

 

2. Rambut Pirang

Ada yang berbeda di hari kedua penampilan IJL All Stars. Ssat bertemu Young Boys, Glenmarie United dan Harimau Ampan, Satrio Mega Insan dan kawan-kawan tampil dengan dandanan berbeda.

Mayoritas pemain memang tampil dengan gaya rambut agak lebih nyentrik di hari pertama. Ya, tercatat nama-nama seperti Faris Fadillah, Satrio Mega Insan, M Nur Habib, Redo Al-qudus, Nuno Leoporto tampil dengan rambut pirang di atas lapangan.

Entah benar atau tidak, dandanan tersebut nyatanya membuat IJL All Stars tampil lebih pede. Buktinya, tiga kemenangan beruntun dengan catatan clean sheet berhasil mereka raih hingga menembus babak final.

Sayangnya, saat laga final, warna keemasan yang ada di rambut mereka luntur terkena paparan sinar matahari. Hasilnya, IJL All Stars ditekuk tuan rumah Subang Jaya dengan skor tipis 1-2 lewat babak extra-time hingga harus puas pulang ke Tanah Air dengan status runner-up.

 

 

3. Jersey Hijau

Di hari kedua, IJL All Stars tampil dengan kostum keduanya dengan warna hijau-putih-hijau. Hal berbeda dibanding saat laga sebelumnya saat mereka berlaga dengan jersey kebesaran putih-merah-putih.

Dari catatan sejarah berdirinya IJL, warna hijau memang sudah jadi simbol perjalanan mereka sejak 2014 lalu. Mengusung tema go-green dengan filosofi menciptakan darah segar untuk masa depan sepak bola Indonesia jadi alasan utama saat itu.

 

Jersey yang dipakai saat hari kedua tersebut nyatanya benar-benar membawa keberuntungan. Seakan-akan ada sinergi lebih dengan hijaunya rumput
Royal Selangor Club Kiara Sports Annexe, gol-gol cantik tercipta dari kaki Daffa Prananda dan kawan-kawan.

 

 

4. Sepatu ala Rochi Putiray

Hal berbeda juga dilakukan Rifal, bek andalan IJL All Stars di hari kedua turnamen. Jika pada sebelumnya, ia memakai sepatu dengan gaya standart namun saat Minggu (3/12), bocah asal Depok itu meniru style pesepak bola legendaris Indonesia, Rochi Putiray.

Ya, gaya Rochi Putiray yang memakai sepatu dengan warna berbeda di atas lapangan nampaknya jadi jimat kian apiknya penampilan Rifal. Usut punya usut itu semua berasal dari saran CEO Indonesia Junior League sekaligus manajer IJL All Stars, Rezza Mahaputra Lubis.

 

Entah apa faktornya sama dengan klenik rambut pirang, bisa jadi style Rifal itu turut membantu performanya melonjak drastis. Mungkin dirinya nampak lebih pede atau aura Rochi Putiray yang memang juga jadi pesepak bola legendaris Asia Tenggara turut mampir ke Rifal hingga mampu menular ke rekan-rekannya.

Dalam sepak bola, tak ada salahnya memang menganggap klenik sebagai simbol keberuntungan sebuah tim. Namun, ada unsur lain yang tak akan bisa dilupakan yakni daya magis. Ya, hal tersebut hanya dapat diraih lewat kerja keras dan sifat disiplin saat menjalani proses latihan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here