Bagas dan Bagus Mengenal Sepakbola dari Sang Nenek

Lazimnya anak-anak mengenal sepakbola dari ayahnya atau pamannya. Namun tidak demikian dengan dou bintang muda paling bersinar saat ini, Amiruddin Bagas Kaffa dan Amiruddin Bagus Kahfi. Karena ternyata yang pertama kali mengenalkan sepakbola kepada Bagas dan Bagus adalah sang nenek, Hajah Siyamah.

Momen bersejarah dalam karir sepakbola Bagas dan Bagus itu terjadi saat mereka masih berusia 2 tahun.

“Namanya anak-anak. Waktu usia 2 tahun Bagas dan Bagus kan sering nangis. Jadi neneknya berupaya mencari cara agar mereka berhenti menangis. Lalu neneknya memberikan bola supaya tidak nangis lagi,” tutur Yuni Puji Istiono ayah Bagas dan Bagus menceritakan awal mula kedua anaknya mengenal sepak bola.

Cara yang dipakai sang nenek ternyata cukup ampuh, karena terbukti begitu dikasih bola si kembar Bagas dan Bagus kontan berhenti menangis. Mereka langsung asyik bermain dengan si kulit bundar.

“Melihat Bagas dan Bagus langsung berhenti menangis setelah dikasih bola lalu asyik bermain, ibu pun spontan berucap mudah-mudahan besar nanti mereka jadi pemain bola,” kenang Yuni.

Sejalan dengan harapan sang nenek, kegandrungan Bagas dan Bagus pada sepakbola terus berlanjut. Saat keduanya berusia 5 tahun, untuk menyalurkan hobi mereka, sang ayah kemudian memasukkan Bagas dan Bagus ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Putra Harapan Magelang. Di kota yang sama, Bagas dan Bagus juga sempat bergabung dengan PPSM.

Pemain kembar kelahiran 16 Januari 2002 di Magelang ini ternyata memiliki minat yang luar biasa untuk menekuni sepak bola. Tak hanya itu, mereka juga punya bakat yang istimewa.

Sejak usia belia, Bagas dan Bagus sudah ‘melanglang buana’ untuk menimba ilmu dan mengasah kemampuannya bersama sejumlah SSB diberbagai kejuaraan tingkat nasional.

Bagas dan Bagus pernah menimba ilmu di SSB Undip Semarang, Putra Berlian Semarang. Kemudian berlanjut ke Kota Solo bergabung dengan Pop Solo, R2 Solo dan Pesat Solo binaan Yoyok.

Dari Solo, Bagas dan Bagus melanjutkan ‘petualangannya’ ke Yogya bersama Mas Yogya binaan Patah. Tak berhenti sampai di situ, pemain kembar ini terbang ke Sidoarjo Jawa Timur untuk membela SSB GPD milik Setiyawan berlanjut bergabung dengan SSB Bromo.

Ketika masih berusia 8-10 tahun Bagas dan Bagus juga pernah membela SSB Bogowonto Purworejo dan mengikuti kejuaraan Assbi nasional di Jakarta.

Petualangan Bagas dan Bagus akhirnya sampai ke ibukota, bergabung dengan Blue Eagel Jakarta dibawah bimbingan Coach Aef Berlian dan pemilik SSB Gatot Hari Supardjanto. Berlanjut bergabung dengan Gissi United bersama Coach Riman Upa. Mereka juga pernah menimba ilmu di Frenz United di bawah bimbingan Edris.

Keseriusan dan kegigihan Bagas dan Bagus dalam menimba ilmu sepak bola didukung penuh oleh sang ayah Yuni Puji Istiono. Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Pancuranmas, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah selama dua periode (1999-2013) ini terus mensuport perjuangan putra kembarnya untuk menjadi pemain sepak bola yang handal. Termasuk ketika Bagas dan Bagus ingin menimba ilmu di Chelsea Soccer Academy di Singapura.

Dengan dukungan dari tokoh sepakbola usia muda nasional, Subagja Suihan dan rekomendasi Kemenpora, Bagas dan Bagus sempat menimba ilmu di Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP) Sumatera Utara. Kini Bagas dan Bagus bernaung di bawah Chelsea Soccer Academy Jakarta.

Torehan Prestasi

Perjuangan dan pengorbanan Bagas dan Bagus dalam menimba ilmu sepak bola ke berbagai tempat di dalam dan luar negeri akhirnya membuahkan hasil menggembirakan. Mereka berhasil menorehkan sederet prestasi gemilang bersama SSB dan tim yang dibelanya di berbagai event nasional dan internasional.

Saat berusia 13 tahun, Bagas dan Bagus sukses membawa Timnas U13 besutan Aef Berlian menjadi juara Philipine Cup.

Di pentas LSP U14 Piala Menpora, pada 2015 Bagas dan Bagus sukses membawa Kalimantan Tengah menjadi runner up nasional, kemudian pada 2016 membawa Putra Mandiri Semarang meraih peringkat tiga.

Di ajang Liga Remaja PSSI U15 Piala Soeratin 2017, Bagas dan Bagus berhasil membawa PSSA Asahan Sumut binaan Ketua Askab PSSI Asahan, Armen Margolang menjadi runner up. Bahkan Bagus Kahfi berhasil menyabet predikat pencetak gol terbanyak dengan mengemas 11 gol.

Membela Timnas Pelajar U15 bentukan Kemenpora dan BLiSPI yang dibesut Encang Ibrahim dan mantan pemain timnas Aples Tecuari berlaga di turnamen internasional Gothia Cup 2017 di China menjadi salah satu pengalaman internasional yang berharga bagi Bagas dan Bagus. Karena setelah itu, mereka mendapat kesempatan untuk membela Timnas U16 PSSI besutan Fakhry Husaini. Tepatnya pada 23 Maret 2017, Bagas dan Bagus resmi bergabung dengan Timnas U16.

Sejak bergabung dengan Timnas U16, prestasi Bagas dan Bagus semakin moncer. Mereka sukses membawa Garuda Muda menjadi juara di beberapa kejuaraan sepak bola internasional. Diawali sukses menjadi juara Vietnam Cup, Jenesys Cup 2018 di Jepang hingga juara Piala AFF U16.

Sayangnya, sang nenek tercinta Hajah Siyamah tak sempat menyaksikan sukses yang kini diraih cucu kembarnya, Bagas dan Bagus. Karena orang yang paling berjasa dalam perjalanan karir mereka yang pertama kali mengenalkan sepak bola pada mereka ini telah wafat pada 2005 silam. Seandainya Hajah Siyamah masih sempat menyaksikan sukses Bagas dan Bagus mengharumkan nama Indonesia saat ini. Dia pasti akan senang dan bangga serta bersyukur karena keputusannya memberi bola untuk menghentikan tangis cucu kembarnya dulu, kini telah mengantarkan mereka ke jalur masa depan gemilang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.